Batalyon A Pelopor

Karhutla di Kalimantan, Personel Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Kalbar Laksanakan Salat Istisqa bersama masyarakat

Kubu Raya, Kalimantan Barat – Asap yang menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan menjadi pengingat bahwa alam sedang menghadapi ujian. Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat, personel Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Kalbar bersama unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat melaksanakan Salat Istisqa di halaman Kantor Bupati Kubu Raya.

Dengan penuh kekhusyukan, seluruh peserta menundukkan kepala dan mengangkat tangan, memanjatkan doa kepada Allah SWT agar bencana karhutla yang terjadi di wilayah Kalimantan segera berakhir, hujan segera diturunkan, serta masyarakat dan lingkungan senantiasa diberikan perlindungan.

Salat Istisqa menjadi sebuah ikhtiar batin di tengah upaya nyata yang terus dilakukan berbagai pihak dalam menghadapi karhutla. Di saat personel di lapangan berjibaku melakukan pencegahan dan penanganan kebakaran, doa menjadi bentuk kepasrahan dan harapan kepada Sang Pencipta agar hujan segera membasahi lahan-lahan yang kering dan membantu memadamkan titik-titik api.

Bagi masyarakat Kalimantan, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Hutan adalah bagian dari kehidupan. Di dalamnya terdapat sumber penghidupan, keanekaragaman hayati, serta lingkungan yang menjadi tempat bergantung bagi generasi saat ini dan yang akan datang.

Karhutla bukan hanya persoalan api yang membakar lahan. Dampaknya dapat dirasakan melalui kualitas udara yang menurun, aktivitas masyarakat yang terganggu, serta ancaman terhadap ekosistem dan kesehatan lingkungan.

Doa menjadi cerminan harapan seluruh peserta agar bencana karhutla segera berlalu. Sebab di balik setiap kepulan asap, terdapat masyarakat yang berharap dapat kembali menghirup udara bersih. Di balik setiap lahan yang terbakar, terdapat alam yang membutuhkan waktu untuk pulih. Dan di balik setiap doa yang dipanjatkan, terdapat harapan agar bumi kembali hijau dan kehidupan kembali berjalan dengan normal.

Upaya penanganan karhutla tentunya membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Pencegahan pembakaran hutan dan lahan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesadaran bersama menjadi bagian penting dalam menjaga Kalimantan dari ancaman karhutla.

Di bawah langit Kalimantan yang masih menanti turunnya hujan, seluruh peserta Salat Istisqa menitipkan satu harapan yang sama: semoga hujan segera turun, api segera padam, asap segera menghilang, dan Kalimantan kembali bernapas dalam udara yang bersih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *